“Sudais!,
jangan nakal, ibu doakan kamu menjadi imam Masjidil Haram!”.
Masih ingat
dengan kisah Juraij. Sebuah kisah nyata keampuhan doa ibunda yang terabadikan
dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Sekedar review, saya akan
menceritakannya kembali berikut ini.
Juraij, dia
adalah ahli ibadah, bahkan ia memiliki tempat khusus untuk beribadah
sehari-harinya. Suatu ketika, ibunya datang menemuinya. Saat tiba di kediaman
Juraij, sang ibu mendapati anaknya sedang khusyuk melakukan ibadah sunnah. Ia
memanggil Juraij, namun sang anak tetap tenggelam dalam ibadahnya.
Keesokan
harinya, sang ibu datang kembali menemui anaknya. Ia memanggil-manggil, namun
Juraij tetap khusyuk dalam ibadah sunnahnya. Pada hari ketiga, peristiwa yang
sama terulang kembali. Mungkin, karena kesal mendapati penolakan dari anaknya
yang tetap memilih khusyuk dalam ibadah sunnah, dan tak menghiraukan panggilan
dirinya sebagai seorang ibu (menurut ulama; memenuhi panggilan ibu adalah wajib
hukumnya, jadi sesuatu yang wajib lebih prioritas daripada yang sunnah), maka
sang ibu pun berdoa agar Juraij tidak meninggal dunia kecuali telah lebih
dahulu mendapat cobaan Allah melalui seorang wanita.
Doa ibu menembus langit, pengabulan pun diberikan Allah SWT.
Hingga akhirnya Juraij mendapatkan cobaan yang dimaksud dalam doa ibunya. Ia
kedatangan seorang pelacur yang menggodanya ketika sedang beribadah. Ia pun
merasakan fitnah yang luar biasa, sebuah tuduhan kotor menghinggapinya, anak
yang dilahirkan oleh si pelacur dituduhkan sebagai hasil hubungan badan antara
Juraij dengan pelacur tersebut.
Peristiwa
fitnah ini terus bergulir, hingga akhirnya Allah SWT mengakhiri cobaan
tersebut. Allah SWT menyelamatkan Juraij dengan menunjukkan kebenaran bahwa
perbuatan pelacur tersebut hanyalah fitnah, dan bahwa bayi yang dilahirkannya
bukanlah hasil perbuatan kotor dengan Juraij, melainkan hasil hubungannya
dengan seorang pengembala.
Keampuhan doa seorang ibu demikian juga dengan ayah, haruslah
membuat kita sebagai orang tua, berhati-hati dalam melampiaskan kekesalan pada
anak menjadi suatu laknat. Ibarat dongeng Si Pahit Lidah, apa yang diucap maka
petaka yang terjadi.
Saat kesal
kepada anak, bawalah hati kita kembali mengembara ke masa lalu, di saat masih
menjadi pengantin baru. Bulan-bulan pertama menjadi pengantin adalah bulan di
mana telinga terasa panas mendengarkan berbagai pertanyaan orang; “istrinya
sudah isi belum?, sudah hamil belum? Wah, kok belum isi-isi juga ya?”.
Lalu kita
mendapatkan karunia anak, luar biasa bahagianya. Sang istri merasa bahwa dia
telah sukses menjadi ibunda dan mampu membuktikan bahwa dia bukan wanita
mandul. Sementara sang suami pun merasa perkasa, telah terbukti kejantanannya
sebagai lelaki sejati, dan bahwa ia siap menjadi seorang ayah yang menanggung
nafkah beberapa nyawa di dalam rumah tangganya.
Hebat bukan,
ternyata anak telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa bagi kedua orang
tuanya. Berkat anak, sepasang pengantin ditasbihkan menjadi orang tua. Tak ada
lagi orang yang akan mencemooh kemampuan biologis keduanya. Lalu si anak
tumbuh, kenakalannya sebagai anak (baik ia masih kecil atau sudah dewasa) kerap
membuat kesal orang tua. Lalu orang tua marah, melampiaskan kekesalannya dengan
berjuta amarah, ia lupa bahwa berkat anaklah ia dahulu merasakan berjuta
bahagia.
Sampai
disitu, kita masuk ke kisah yang lain, juga tentang keampuhan doa orang tua.
Dan menurut saya, ini harus kita tiru dalam upaya mendidik dan membesarkan
anak-anak tercinta.
Ada seorang
imam besar yang populer, suaranya saat menjadi imam sholat menambah
kekhusyukan, beliau adalah imam Abdurrahman As-Sudais, salah seorang imam besar
di Masjidil Haram.
Dikisahkan
bahwa saat ia masih kanak-kanak, ia juga tidak terlepas dari kenakalan sebagai
seorang anak. Dan ibunya, tentu saja tidak membiarkan kenakalan itu melampaui
batas. Setiap kenakalan yang diperbuat anaknya, ia langsung arahkan dengan
teguran yang mendidik. Ia marah kepada anaknya, namun kemarahan yang mendidik,
bukan kemarahan yang mengecilkan hati sang anak. Dan hebatnya lagi, setiap kali
ia menegur atau memarahi Sudais kecil, sang ibu melantunkan sebuah doa
“Sudais!, jangan nakal, ibu doakan kamu menjadi imam Masjidil Haram!”.
Subhanallah,
doa ibu menembus lapisan langit, mengguncang Arsy Allah SWT. Dan sudah menjadi
janji-Nya bahwa doa orang tua, apalagi doa ibu, tarafnya satu level dengan doa
seorang Nabi. Allah SWT kabulkan. Dan kini kita dapat saksikan bahwa beliau
telah merasakan keampuhan doa ibunya, ia menjadi seorang imam besar di
Masjidil Haram.
Menjadi
orang tua akan membawa berkah jika setiap ucapan kita adalah doa kebaikan untuk
sang anak. Betul, bahwa anak dituntut untuk berbakti dan berbuat baik kepada
orang tua, bahkan tuntutan itu disandingkan Allah SWT dengan kewajiban
beribadah kepada-Nya. Namun disisi lain, sebagai orang tua, kita harus
mendoakan anak agar ia pandai berbakti, taat beribadah, luhur akhlaknya, dan
tidak dijadikan objek kekesalan orang tua. Semoga bermanfaat